Petugas protokoler Istana Negara di Jakarta dikenal ketat menerapkan aturan. Aturan tersebut berlaku bagi siapa pun, baik petinggi negara mau pun rakyat jelata.
Misalnya, tak seorang pun diperbolehkan masuk Istana dengan memakai celana jeans. Siapa yang memakai sandal jepit, pasti ditegur, disuruh pulang.
Namun ternyata itu semua tak berlaku pada Hari Kemerdekaan Indonesia. Pada perayaan hari kemerdekaan pada 17 Agustus 2017, batas-batas aturan kaku itu tertembus.
Buktinya, Ketua Suku Arfak dari Timur Indonesia Frans Maksim datang dengan memakai sandal. Bahkan ia tak memakai kemeja seperti tamu-tamu undangan perayaan hari kemerdekaan 2016.
Ada juga Yusak Rumambi dari Minahasa, datang hanya pakai sandal dan tak berkemeja. Ia gagah melangkah dengan aksesori tengkorak di dadanya. Kenapa mereka berani?
Foto: Yusak Rumambi mengenakan pakaian adara. Antara
Ini memang karena perayaan 17 Agustus di Istana Negara bertemakan baju Adat. Mau pakai atau tidak pakai sendal, ataupun pakai kemeja atau bertelanjang dada, sah masuk Istana sebagai undangan.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah aktor izin masuk mereka. Sang Presiden mengingkan perayaan kemerdekaan pencerminkan ragam budaya, keanekaragaman dari Sabang sampai Merauke.
Sumber : Okezone
0 komentar:
Posting Komentar